Kesadaran Penuh (mindfulness) sebagai dasar penguatan 5 (lima) Kompetensi Sosial dan Emosional
Bapak/Ibu CGP, apakah akrab dengan istilah mindfulness? Mungkin ada yang
sudah sering mendengar tetapi ada pula yang belum pernah mendengar sama sekali.
Sebelum membahas kesadaran penuh (mindfulness) ini secara mendalam, coba kita
pikirkan sejenak; apa yang ada dalam kepala kita saat menonton film atau
membaca buku kesukaan? Apakah masih dapat mengingat alur ceritanya sampai saat
ini? Bagaimana dengan emosi yang muncul saat itu ketika melihat karakter
utamanya menangis, mengalami kemalangan, ataupun berbahagia, dan kita turut
menangis, berteriak, dan tertawa? Lalu, sebagai seorang pendidik; dalam
pertemuan guru rutin saat kepala sekolah maupun guru lain mengemukakan pendapat
atau mengumumkan kegiatan sekolah yang akan datang dan kita mendengarkan dengan
seksama setiap informasi yang diberikan. Contoh lain adalah ketika
mempersiapkan materi pembelajaran, kita memperhatikan alur yang akan dibawakan,
langkah untuk mengeksekusi rancangan, dan penilaian. Kemudian pada saat di
kelas kita mengamati proses belajar murid: gerak-gerik, raut wajah, bahkan
sesederhana cara murid memandang saat materi sedang diberikan.
Pada saat kita mengarahkan sepenuhnya perhatian pada kegiatan yang sedang dilakukan, seperti menonton film, menyimak apa yang sedang dibicarakan, mengobservasi sekeliling kita, mengajar di kelas, mendengar penyampaian informasi dalam pertemuan guru, bahkan membaca modul ini, dan memunculkan rasa ingin tahu apa adanya dengan rasa penghargaan - contoh praktik kesadaran penuh (mindfulness).
Bapak/Ibu CGP, coba mengingat kembali
saat kita merasakan beban di pundak, mungkin karena tugas yang menumpuk,
sulitnya berkomunikasi dengan pimpinan atau rekan kerja, murid yang mengabaikan
kesepakatan yang sudah dibuat. Sebagai guru, skenario demikian tidaklah
terelakkan. Kondisi demikian dapat menjadi pemicu munculnya emosi tidak
nyaman seperti frustasi, marah, kuatir dan berbagai campuran emosi lainnya yang
mungkin tidak dapat kita identifikasi. Emosi-emosi tidak nyaman ini dapat
mempengaruhi diri kita secara sadar dan tidak sadar. Penting bagi kita untuk
mengambil jeda, menyadari emosi yang tidak nyaman agar tidak membelenggu
kita dalam memandang dan merespon orang lain, baik dalam sebuah interaksi,
pekerjaan, hingga pada keputusan-keputusan hidup yang diambil
Kesadaran penuh itu sendiri dapat diartikan sebagai kesadaran yang muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja/sadar pada kondisi saat sekarang. Dilandasi rasa ingin tahu (tanpa menghakimi) dan kebaikan (dalam Hawkins, 2017, hal. 15) yang sebenarnya telah ada dalam diri manusia secara alami tanpa perlu diajarkan ataupun ditumbuhkan. Akan tetapi pikiran merupakan bagian diri kita yang seringkali sulit dikendalikan. Sehingga kesadaran penuh yang sebenarnya telah dimiliki secara alami mengalami hambatan untuk benar-benar dialami.
Peran praktik kesadaran penuh (mindfulness) akan sangat terlihat
disini. Akan tetapi, perlu diingat bahwa praktik kesadaran penuh (mindfulness)
bukan sebagai solusi pemecahan masalah, melainkan praktik yang membantu Anda
dalam menyikapi, memproses, dan merespon permasalahan yang dihadapi untuk fokus
pada situasi saat ini - bukan pada kekhawatiran akan masa yang akan datang
ataupun penyesalan akan masa yang telah berlalu. Menurut Hawkins (2017), cara
yang paling efektif untuk memahami kesadaran penuh (mindfulness) adalah dengan
‘mengalaminya’ sendiri. Bagaimana supaya kita dapat mengalami kesadaran penuh?
Jawabannya adalah dengan berlatih.
Bapak/Ibu CGP, pada bagian ini kita akan mengeksplorasi bagaimana praktik-praktik kesadaran penuh memperkuat Kompetensi Kesadaran Sosial (KSE). Anda dapat membaca kembali penjelasan 5 KSE di bagian sebelumnya. Pada prinsipnya praktik kesadaran penuh merupakan segala aktivitas yang kita lakukan secara sadar. Apapun bentuk aktivitasnya - yang ditekankan adalah perhatian yang diberikan saat melakukan aktivitas tersebut. Praktik paling mendasar dan sederhana adalah melatih dan menyadari napas.
Ketika Bapak/Ibu hendak
mengimplementasikan kompetensi kesadaran diri, manajemen Diri, kesadaran
sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung
Jawab, praktik kesadaran penuh ini menjadi fondasinya. Mempraktikkan kesadaran
penuh membawa fokus kita kembali pada saat ini, yang dimana akan memberikan
Anda waktu dan kesempatan untuk mengenal emosi, perasaan, dan pikiran apa
adanya, tanpa penilaian dan penghakiman, namun dengan kepedulian. Pengenalan
dan penerimaan emosi, perasaan, dan pikiran yang sedang dialami, akan membuat
Anda mampu mengidentifikasi cara pengelolaan yang tepat. Indikasi pencapaian
kompetensi kesadaran diri dan manajemen diri sudah terlihat.
Selanjutnya, emosi yang telah dikenali, diterima, dan dikelola
akan menumbuhkan empati dan pikiran yang terbuka untuk memahami orang lain dan
situasi di luar diri Anda dengan sikap yang netral. Hal ini membuka ruang yang
luas bagi suatu relasi positif dapat terjalin. Dengan sendirinya, kompetensi
kesadaran sosial dan keterampilan berelasi semakin terasah.
Tidak berhenti sampai disitu saja; saat Anda akan mengambil
keputusan-keputusan - baik keputusan hidup yang besar, memilih metode pengajaran,
merancang kegiatan sekolah, memberi konsekuensi pada murid, dan bentuk-bentuk
keputusan lain - dengan kesadaran penuh menjadi dasar bagi Anda membuat
rancangan yang akan membawa kebaikan, pertimbangan-pertimbangan berdasarkan
nilai moral dan etika, memikirkan konsekuensi, yang dimana Anda akan memiliki
rasa bertanggung jawab atas setiap keputusan yang dibuat apapun hasilnya.
Melatih dan menumbuhkan kesadaran penuh akan membantu individu untuk lebih
terhubung dengan diri dan orang lain. Hal ini akan menjadikannya lebih
responsif dalam hubungan interpersonal dan pengambilan keputusan.
D.4. Penguatan Kompetensi
Sosial dan Emosional Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) di Sekolah
Bapak/Ibu CGP, kita tentunya sepakat dengan ungkapan tersebut. Selain dari interaksi dengan teman-temannya, murid-murid kita akan belajar dari interaksi mereka dengan para pendidik dan tenaga kependidikan (PTK) di sekolah. Oleh sebab itu, penguatan kompetensi sosial dan emosional pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah menjadi salah satu indikator penting dalam pembelajaran sosial emosional di sekolah. Pendidik dan tenaga kependidikan perlu memiliki kesempatan secara reguler untuk mengembangkan kompetensi sosial, emosional dan budaya mereka sendiri, berkolaborasi, membangun hubungan saling percaya dan memelihara komunitas yang erat.
Berikut
langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk memperkuat pembelajaran sosial
emosional pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah:

1.
Tentukan satu rencana yang akan Anda terapkan untuk penguatan KSE
diri Anda. Berikan alasan Anda memilih langkah tersebut!
Saya ingin melakukan menerapkan berkesadaran penuh
(mindfulness) dengan maksimal untuk diri sendiri agar dapat menjalankan tugas
dan tanggungjawab says secara optimal misalnya dengan melakukan pembiasaan
berdoa sebelum dan sesudah belajar, melakukan berbagai macam kegiatan lomba,
belajar di luar kelas dan mencintai lingkungan, membuat refleksi setelah
pembelajaran dan lain sebagainya. saya ingin pembelajaran yang saya terapkan
menyenangkan bagi murid.
Saya
ingin konsisten menerapkan latihan mindfulness melalui latihan menyadari
nafas (mindful breathing). Latihan menyadari nafas dapat dilakukan
dengan mudah oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Mengapa penting
untuk menyadari nafas? Karena napas adalah jangkar yang dimiliki setiap orang
untuk berada di sini dan masa sekarang (here and now). Pikiran kita merupakan
bagian diri kita yang seringkali sulit dikendalikan. Seorang ilmuwan dan filsuf
bernama Deepak Chopra dalam website pribadinya menyebutkan bahwa manusia
memiliki 60.000-80.000 pikiran dalam sehari. Bayangkan betapa sibuknya pikiran
kita. Karena sangat cair, pikiran dapat bergerak ke masa depan dan menimbulkan
perasaan kuatir. Pikiran juga dapat bergerak ke masa lalu yang seringkali
menimbulkan perasaan menyesal. Pikiran berada dalam situasi terbaiknya jika ia
fokus situasi saat ini dan masa sekarang, Cara termudah untuk membuat pikiran
dan perasaan Anda berada pada saat ini dan masa sekarang adalah dengan
menyadari nafas. Dengan
latihan bernafas dengan kesadaran penuh secara konsisten dan rutin maka juga mendukung kekuatan otak (korteks prefrontal) yang berhubungan dengan
fokus, konsentrasi dan kesadaran.
Saya ingin konsisten menerapkan latihan mindfulness melalui latihan menyadari nafas (mindful breathing). Latihan menyadari nafas dapat dilakukan dengan mudah oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja. Mengapa penting untuk menyadari nafas? Bayangkan betapa sibuknya pikiran kita selama beraktivitas sehari penuh. Maka kita akan mencoba relaksasi sejenak agar pikiran kita hadir pada diri kita. Pikiran dapat bergerak ke masa depan tanpa kekawatiran. Pikiran juga dapat bergerak ke masa lalu yang seringkali menimbulkan perasaan menyesal. Dengan Latihan menyadari nafas ini Pikiran kita berada dalam situasi terbaiknya jika ia fokus situasi saat ini dan masa sekarang
2. Manakah langkah penguatan kompetensi yang penting bagi rekan pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah Anda saat ini? Berikan alasan Anda memilih langkah tersebut!
Berkolaborasi: sekolah tempat kita mengajar secara professional dibidang kinerja masing- masing dalam hal ini yang perlu kita tingkatkan lagi adalah kolaborasi. Sebagaimana kita ketahui kolaborasi menciptakan struktur berbentuk komunitas pembelajaran profesional atau pendampingan sejawat bagi pendidik dan tenaga kependidikan dengan adanya kolaborasi yang kuat sehingga sekolah menjadi cerminan untuk mewujudkan budaya positif
Aturan forum diskusi
tertulis:
Sebelum
kita melanjutkan sesi diskusi, ada beberapa hal yang perlu kita lakukan agar
diskusi dapat berjalan dengan efektif dan produktif:
- Setiap CGP harus menjawab
pertanyaan berkaitan dengan kasus Bapak Eling.
- Diskusi ini bertujuan untuk
mengembangkan pemahaman bersama penerapan kompetensi sosial dan emosional
dalam suatu situasi.
- Sikap terbuka dan rasa ingin
tahu menjadi nilai dasar dari proses diskusi ini.
- Membangun pendapat dengan mempertimbangkan tanggapannya terhadap respon/jawaban CGP lain.
Bapak/Ibu
CGP, mari kita baca kasus-kasus yang ada di bawah ini. Buatlah refleksi
dari setiap kasus terlebih dahulu sebelum membaca kasus berikutnya. Anda
juga dapat merujuk kembali pada pembahasan Pembelajaran 2a.
Selamat membaca dan berefleksi!
KASUS I
Pengantar dan Latar Belakang:
Bapak Eling adalah
seorang guru PPKN SMP selama lebih dari 15 tahun. 5 tahun belakangan, ia juga
berperan sebagai wakil kepala sekolah bidang kemuridan. Selain mengajar PPKN,
perannya sebagai wakil kepala sekolah memberikannya tanggung jawab untuk
merancang kebijakan pendisiplinan murid, melakukan supervisi dan sebagai
pendamping dalam kegiatan-kegiatan dan aktivitas-aktivitas yang berhubungan
dengan kemuridan. Pada bulan September, kepala sekolah menunjuk Bapak Eling
sebagai ketua panitia perayaan ulang tahun sekolah.
Selanjutnya disajikan 5 kasus yang terjadi pada Bapak Eling. Bacalah secara berurutan dan lakukan refleksi setelah membaca!
1. Apakah situasi yang dihadapi Bapak Eling? Mohon uraikan dengan singkat dan jelas. Bapak Eling marah karena merasa tidak dihargai saat salah satu murid tidak melakukan instruksinya atau bisa juga Bapak Eling merasa kewalahan atau ketakutan (cemas) karena tidak bisa menangani kelas.
2. Apa kompetensi sosial dan emosional yang dibutuhkan Bapak Eling dalam menghadapi masalah tersebut? Jelaskan jawaban Anda. (Hubungkan dengan artikel-artikel yang telah dibaca sebelumnya) menerapkan latihan berkesadaran penuh (mindfulness) sambil mengembangkan kompetensi kesadaran diri (self awareness). Untuk mencapai pemahaman kesadaran diri dan mampu mengenali emosinya, Bapak Eling dapat mempraktikkan kesadaran penuh (mindfulness). Teknik STOP adalah salah satu teknik mindfulness yang dapat digunakan untuk mengembalikan diri pada kondisi saat ini dengan kesadaran penuh. STOP yang merupakan akronim dari: Stop/ Berhenti. Hentikan apapun yang sedang Anda lakukan. Take a deep Breath/ Tarik napas dalam. Sadari napas masuk, sadari napas keluar. Rasakan udara segar yang masuk melalui hidung. Rasakan udara hangat yang keluar dari lubang hidung. Lakukan 2-3 kali. Napas masuk, napas keluar. Observe/ Amati. Amati apa yang Anda rasakan pada tubuh Anda? Amati perut yang mengembang sebelum membuang napas. Amati perut yang mengempes saat Anda membuang napas. Amati pilihan-pilihan yang dapat Anda lakukan. Proceed/ Lanjutkan. Latihan selesai. Silahkan lanjutkan kembali aktivitas Anda dengan perasaan yang lebih tenang, pikiran yang lebih jernih, dan sikap yang lebih positif.
3. Seandainya Anda adalah Bapak Eling, apa yang akan Anda lakukan? Seandainya saya menjadi Bapak Eling, saya akan menasehati Diana dengan baik, supaya tidak mengerjakan pelajaran lain di saat pelajaran saya. Saya ingatkan untuk semua murid supaya mempunyai sifat menghargai, menghormati Guru, karena Guru adalah orang tua kedua di sekolah, jadi jangan sampai kecewakan Guru. Atau saya akan bertanya ke Diana dan yang lainnya, bagaimana perasaan Diana kalau Diana menjadi saya (Guru) apakah akan merasa sakit hati atau biasa saja? nah biarlah anak bisa berpikir, supaya ini bisa menjadi pendidikan karakter dan supaya teringat lama di memori.
KASUS 2
Selesai kegiatan belajar-mengajar berakhir, Bapak Eling memimpin rapat
panitia besar yang akan memutuskan revisi akhir acara. Rapat yang berlangsung
selama kurang lebih 1 jam menghasilkan tugas baru bagi Pak Eling untuk
mempelajari perubahan proposal acara. Pak Eling perlu memastikan
semua perencanaan, pengaturan personil, dan pengaturan anggaran sudah tepat.
Sesuai rencana, panitia acara sudah harus mulai bekerja setelah proposal
disetujui oleh kepala sekolah. Oleh karena itu, Bapak Eling diminta
untuk mengirimkan proposal ini kepada kepala sekolah selambat-lambatnya lusa.
Karena mendahulukan proposal ini, Bapak Eling pun lupa menyiapkan rubrik untuk
pembelajaran geografi keesokan harinya. Keesokan paginya, Bapak Eling, masuk
kelas dan lupa mengunduh rubrik proyek geografi sehingga proses pembelajaran
sempat tersendat.
1. Situasi yang dihadapi
Bapak Eling adalah terlalu banyak amanah atau tugas dalam waktu bersamaan,
dan Bapak Eling kurang tepat dalam memprioritaskan tugas mana yang harus di
kerjakan terlebih dahulu. Seharusnya kita sebagai Guru harus lebih
memprioritaskan tugas pokok sebagai Guru sebelum mengerjakan Tugas Tambahan di
sekolah seperti menjadi Ketua Panitia 17 Agustus di sekolah. Dan seharusnya
panitia yang lain juga bisa bekkerja dengan baik, bukan semuanya harus
dikerjakan oleh Pak Eloing selaku ketua panitia.
2. Kompetensi
Sosial dan Emosional yang dibutuhkan oleh Bapak Eling untuk menghadapi kasus
tersebut adalah
1. Pengelolaan emosi dan
fokus, yaitu bapak Eling harus bisa mengelola emosi dan fokus agar dapat
terlaksana semua tugas dalam waktu yang bersamaan, menjadi Guru (mengajar) dan
juga menjadi ketua Panitia 17 Agustus di sekolah.
2. Kemampuan kerja sama dan resolusi konflik,
hal ini sangat dibutuhkan oleh pak Eling karena sebagai ketua Panitia harus
bisa bekerja sama dengan guru lain supaya pekerjaan menjadi ringan dan pak
Eling tidak terlalu banyak bebannya.
3. Seandainyan saya adalah bapak
Eling, maka saya akan melakukan
1. Sebagai Guru saya akan lebih
memprioritaskan bahan ajar untuk mengajar, jadi lebih baik semua administrasi
mengajar, bahan ajar kita siapkan pada waktu awal tahun ajaran baru, bahkan
sebelum KBM dimulai, kita sudah siap, sehingga bila sewaktu-waktu kita sibuk
dengan kegiatan lain, kita sudah mempunyai bahan nya dan tidak mungkin terlewat
karena sudah kita persiapkan jauh-jauh sebelunya.
2. Saya akan membuat jadwal kegiatan harian
saya supaya tidak ada yang terlewatkan, sehingga saya akan melakukan checklist
terhadap hal-hal yang sudah saya kerjakan
3. Kerja sama yang baik dengan rekan Guru
sesama Panitia, agar melaksanakan tugas sesuai dengan tupoksi sehingga saya
selaku Ketua hanya memantau dan mendampingi.
KASUS 3
Saat mempelajari proposal acara perayaan ulang tahun sekolah di antara jam mengajar dan mengoreksi pekerjaan murid-murid, Bapak Eling menyadari salah seorang murid kelas 9 yang berprestasi dalam kejuaraan renang tidak mengumpulkan tugasnya. Murid tersebut mengungkapkan pada Bapak Eling bahwa dia sebenarnya merasakan lelah dan mengantuk saat berada di dalam kelas maupun di rumah karena latihan keras menjelang kejuaraan bulan depan. Bapak Eling menilai, seharusnya murid tersebut bekerja lebih keras sebagai konsekuensi dari pilihannya menjadi murid atlet. Murid tersebut meminta keringanan ataupun kesempatan untuk mengumpulkan tugasnya saat jam pulang sekolah namun Bapak Eling memutuskan tidak menerima dan konsekuensinya adalah murid tersebut tidak mendapatkan nilai tugas.
- Apakah
situasi yang dihadapi Bapak Eling? Mohon uraikan dengan singkat,
padat, dan jelas.
- Berdasarkan pemahaman tentang KSE kesadaran sosial berlandaskan kesadaran penuh (mindfulness) yang sudah Anda pelajari, bagaimana Bapak Eling dapat merespon situasinya dengan kompetensi tersebut? Jelaskan alasan Anda.
Kasus 4
Setelah
selesai memeriksa proposal acara 17 Agustus, Bapak Eling mengirimkan proposal
tersebut kepada kepala sekolah. Ternyata proposal yang dikirimkan oleh Bapak
Eling dinilai tidak sesuai oleh kepala sekolah. Kepala Sekolah meminta agar
isinya sesuai dengan pengarahan awal yaitu agar acara lebih banyak melibatkan
orang tua murid. Bapak Eling tidak menyangka jika dia harus melakukan koreksi
dan koordinasi ulang dengan tim acara. Revisi proposal tentu akan memakan waktu
lagi dan Bapak Eling sudah membayangkan ini akan menghambat tugas-tugasnya yang
lain. Bapak Eling mengungkapkan hal ini kepada wakil ketua panitia. Bapak Eling
mengungkapkan bahwa dia tidak mau mengubah proposal dan meminta Wakil
Ketua Panitia tersebut yang merevisi proposal.
Permasalahan, saat kepala sekolah meminta untuk mengembalikan rencana perayaan hari kemerdekaan ke rencana semula. Bapak Eling yang sudah merasa kewalahan dan stres menghadapi permasalahan sehari-hari menjadi semakin tertekan. Sudah tergambar dalam benak Bapak Eling, bagaimana rencana yang sudah tersusun tiba-tiba harus diubah semua. Bayangan bahwa ini akan mengubah semua yang telah disiapkan dan dilakukan membuat Bapak Eling tidak mampu berpikir jernih. Di saat seperti itu, Bapak Eling seperti tidak memiliki kemampuan untuk berkomunikasi apalagi untuk mengubah proposal kegiatannya. Dia meninggalkan kantor kepala sekolah tanpa mampu menjelaskan situasi, dan pergi ke ruang wakil panitia untuk memberikan tugas merevisi proposal yang seharusnya menjadi tugasnya.
Kasus 5
Setelah bekerja selama 5
tahun di sekolah yang sama, Bapak Eling merasa mulai kewalahan dengan berbagai
tanggung jawab tambahan yang harus dijalankan. Bapak Eling mendapatkan tanggung
jawab ekstra karena dipercaya oleh kepala sekolah. Kepala sekolah melihat
pengalaman Bapak Eling sudah jauh lebih banyak dibandingkan guru-guru yang
lain. Itu sebabnya, Bapak Eling diminta untuk menjadi penanggung jawab
beberapa acara penting di sekolah, menjadi wakil sekolah di forum
Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Awalnya Bapak Eling merasa tugas
tambahan tersebut sangat menantang. Namun saat ini, dia tidak merasa tertantang
lagi. Ditambah dirinya merasa bahwa akhir-akhir ini, kinerjanya sebagai guru
juga semakin menurun. Karena itu, Bapak Eling terpikir untuk menulis surat
pengunduran diri.
Permasalahan: Bapak Eling merasa bahwa kinerjanya setelah beberapa tahun bekerja menjadi guru di sekolah tersebut semakin menurun. Dia pun berniat untuk menulis surat pengunduran diri. Bapak Eling merasa kegiatannya di luar tupoksinya sebagai guru banyak menyita waktunya. belum tentu keputusan yang diambil efektif mengatasi masalah. Bisa jadi, masalah utamanya belum betul-betul terungkap. Butuh kejujuran dan keterbukaan dalam mengevaluasi permasalahan. Untuk itu, butuh terus melatih kesadaran penuh, agar semakin terbuka dengan masalah yang sesungguhnya.

Comments
Post a Comment