Assalamualaikum wrwb
Saya Arif Saputra, calon guru penggerak angkatan 7, Puji syukur saya ucapkan
kepada Allah SWT, Alhamdulillah yang telah mentakdirkan saya lolos tahapan
seleksi guru penggerak. Saya menjadi salah satu dari 20.000 peserta Pendidikan Guru Penggerak
yang akan bersama-sama belajar dan berproses selama kurang lebih 6 bulan
nantinya. Bukan waktu yang singkat namun juga tidak lama, karena setelah saya
rasakan belajar bersama orang-orang hebat ini, tidak terasa sudah hampir 1
bulan.
Pada hari Kamis, 20 Oktober 2022 pembukaan pendidikan guru
penggerak akan 7. Dibuka langsung oleh Bapak Menteri Pendidikan,Kebudayaan,
Riset dan Teknologi, dan didampingijuga oleh Plt. Ditjen GTK Prof.Dr. Nunuk
Suryani,M.Pd. Keesokkan harinya Jum’at 21 Ojtober kamu mulai melakukan kegiatan
di LMS dengan mengerjakan soal pretest. Pada hari Sabtu dilakukan lokarya
orientasi di SMKN 58 Jakarta.
Dalam modul 1.1 ini saya seakan tertampar dengan pengetahuan
saya selama ini. Saya tahu bahwa Ki Hajar Dewantara adalah bapak pendidikan
Indonesia. Namun nyatanya masih sangat jauh dari apa yang diharapkan oleh KHD.
Saat mengajar, saya lebih banyak meminta siswa mengikuti alur saya, meskipun
tetap saya mencari cara yang menarik siswa. Tapi tentu menarik disini bukan
dari sudut pandang siswa, namun dari sudut pandang saya sebagai pendidik.
Alhasil, tidak semua siswa merasa enjoy dalam pembelajaran
yang saya ampu.
KHD menegaskan juga bahwa didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai dengan tuntutan alam dan zamannya sendiri. Artinya, cara belajar dan interaksi murid Abad ke-21 tentu saja sangat berbeda dengan para murid di pertengahan dan akhir Abad ke-20. Apalagi dengan melihat kondisi geografis di Indonesia yang sangat beragam
Dalam filososif pemikikan Pendidikan KHD, bila menitik beratkan
kepada menghamba pada anak. Sehingga anak diberikan kemerdekaan dalam proses
belajarnya, kita sebagai pendidik bertugas untuk menuntun, dalam istilah beliau
dikenal dengan “Sistem Among”. Anak pada dasarnya memiliki kodrat masing-masing
yang pada umumnya adalah bermain. Namun tentu bermain disini tidak sama antara
tingkatan SD, SMP maupun SMA. Peran guru lah memilih mana permainan yang bisa
diterapkan pada siswanya tersebut.
Selama saya mengikuti Pendidikan Guru penggerak ini, saya
menjadi mendapatkan ide dalam mengolah kelas saya. Saya saat ini menjadi
pendidik salah satu SMK Negeri di DKI Jakarta yaitu SMKN 49 Jakarta tepatnya
Jakarta Utara. Jakarta Utara terkenal dengan cuaca yang sangat panas, ini
mengakibatkan banyak siswa yang saat pembelajaran merasa tidak nyaman di kelas.
Kegiatan aksi nyata ini dilakukan untuk menerapkan pemikiran-
pemikiran Ki Hajar Dewantara pada modul 1.1.A, Banyak proses pembelajaran
dikelas dan di sekolah secara langsung telah mengaplikasikan beberapa
pemikiran- pemikiran KHD. Diantaranya adalah kegiatan proses pembelajaran untuk
meningkatkan kompetensi siswa.
Tujuan kegiatan aksi nyata ini yaitu untuk mewujudkan
pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa sehingga menjadi pembelajaran yang
bermakna serta mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Yang menjadi
tolak ukur kegiatan aksinya nyata adalah siswa lebih aktif saat proses
pembelajaran dan belajar lebih menyenangkan.
Dalam pembelajaran saya menggunakan model Inkuiri yang berbasis emulator
kalkulator Casio. Dimana siswa saya bagikan LKPD, lalu siswa diminta
mengerjakan LKPD dengan menggunkan emulator kalkulator Casio tersebut. Setelah
pekerjaan mereka selesai siswa diminta siswa untuk mempresentasikan hasil
kegiatannya didepan kelas.
Hasil kegiatan ini membuat proses pembelajaran dengan menggunakan inkuiri
melatih siswa untuk beraktivitas mandiri dan melatih kepercayaan diri. Melalui
kegiatan aksi nyata, menyadarkan peranan penting guru dalam pendidikan bukan
hanya sebagai fasilitator tetapi guru juga pendamping. Dalam kegiatan ini,
melatih siswa untuk meningkatkan kepercayaan diri dan berintekrasi.


Comments
Post a Comment